Kamis, Desember 14, 2017
Home > Sastra > Surat Hujan

Surat Hujan

Gambar Gratis dari Pixabay

Bagaimana aku menuliskan surat ini. Aku tidak tahu kata apa yang paling tepat untuk memulai surat ini. Apakah dengan sapaan apa kabarmu dan kabar malaikat kecil kita, Adit? Lalu aku mengabarkan kabarku baik-baik saja. Ah! Terlalu gamang menyebutkan kabarku. Aku tidak punya kabar yang perlu aku ceritakan. Aku sudah hilang. Satu-satunya kesadaranku adalah pendengaranku tentang hujan. Di sel ini aku hanya ditemani hujan.

Lembaran surat yang aku tulispun dengan hujan. Juga dikabarkan hujan. Hujan di luar turun sangat deras. Kilatan petir menambah semaraknya malam ini. Hujan mengubah sunyi menjadi bunyi. Tangisan membisu akhirnya pecah beradu dengan isak hujan. Hembusan angin membawa cipratan hujan menerobos dinding penjara. Di dalam sel penjara aku mendengar pesta hujan malam ini. Ricik-ricik hujan begitu nyaring jatuh ke tanah.Seperti nyaringnya cerita-ceritaku hanyut terbawa aliran hujan.

Di dalam nyanyian hujan, aku membuka cerita. Sebuah cerita yang tersimpan dalam bilik hati. Terkunci rapi tidak ada satu jiwa pun yang mengetahui. Bahkan kamu sekalipun. Karena aku tak ingin kamu menangis. Apalagi kamu menangis karenanya.

Waktu membawaku menelusuri jejak demi jejak hidupku. Tanah kelahiran yang aku tinggalkan demi mengais rejeki di negeri seberang. Bau lumpur sawah, jalan becek kampung, dan keringat lelahmu adalah satu hal yang sangat kurindukan. Aku menantikan waktu mengembalikanku padamu. Dan meneruskan mimpi kita membangun rumah gedong di kampung. Sehingga kita tidak lagi menumpang tinggal bersama mertua.

Tekadku merantau ke luar negeri demi mengubah nasib. Demi sekolah Adit dan demi membantumu mencari nafkah. Tekad ini telah menebas hidupku. Agen menempatkanku bekerja di salah satu rumah tangga. Anggota keluarga itu terdiri dari bapak, ibu, dan dua anaknya yang masih duduk di sekolah dasar. Keluarga majikanku kelompok menengah ke atas. Meski mobil pribadi mereka hanya dua buah mobil. Namun mereka mempunyai banyak toko. Aku mendapat kepercayaan menjaga salah satu toko.

Saat sepertiga malam yang terakhir. Hari memulai kisahku. Aku bangun melipat selimut. Doa yang tak usai kulafalkan, menjadi wirid yang kulatunkan dalam batin. Setumpuk perkerjaan rumah tangga membebani punggungku. Sudut-sudut ruangan menjadi saksi kesakitanku. Hampir setiap sentuhan tanganku pada benda-benda rumah,mendapat pukulan. Karena aku gagal berpacu dengan waktu.

“ Mengelap meja waktu dua menit, mengelap guci lima menit,” ! Hardik majikan perempuan.

Aku menyelesaikan tugas dengan tergesa-gesa. Terlambat setengah menit saja. Ujung sapu kecil itu menumbuk punggungku. Sakit rasanya. Andai kamu tahu, rasa sakitnya melebihi sakit saat ibu memukulku karena aku menjatuhkan piring sewaktu kecil.

Menit demi menit bergulir menyeret langkah waktu. Aku ingin mengakhiri waktu ini. Waktu berjalan lambat, waktu seolah menikmati setiap jeritan dalam setiap menit yang jatuh. Semakin keras aku menjerit sakit. Semakin keras pula pukulan itu. Hingga penunjuk jam terhenti pada angka 11 siangg. Waktu memberiku jeda untuk bernafas selama 15 menit. Sebotol air mineral dengan sebongkah roti menemaniku bercerita. Aku teguk air itu, alangkah sejuknya. Air itu mengaliri tenggorokannku yang kering dan sakit menahan jeritan. Air itu juga menahan air mataku yang mengalir dari pelupuk mata. Sebongkah roti pengganjal perutku. Menjalani sisa pekerjaanku hingga jam 23.00 malam nanti.

Aku tak seharian kerja rodi. Sekitar sore hari aku ditugaskan menjemput Michael. Dia setiap Selasa, Jumat dan Ahad Sore mengikuti les musik. Kebetulan keluarga majikanku mantan pemusik. Michael seumuran anak kita, Mas Helmi. Bedanya Adit kurus dan hitam karena dulu kita sering mengajaknya ke sawah. Sedangkan Michael besar dan putih. Iya maklum dia keturunan China. Bergaul dengan Michael cukup menghapus kerinduanku kepada Adit. Mungkin sekarang Adit sudah bisa naik sepeda ya? Terakhir kali ketika aku terbang, dia baru bisa berjalan. Sekitar dua tahun yang lalu. Aku baru sadar sudah lama juga aku merantau.

“Dwaarrr!” Suara guntur.

Guntur di luar menggelegar. Membuka memori jeritanku yang akhirnya pecah. Memori kelam tak terlupakan ketika majikan perempuan menyetrika punggungku. Alangkah panasnya listrik itu. Tangisan di mataku seolah ikut melepuh. Mengaliri punggungku yang terbakar. Hitam.
——————
Dalam ruang sepi gelaran sajadah aku menangis sepuasnya. Rintih doaku memanggil nama Tuhan. Aku sebut asmanya yang suci tanpa henti. Mengadu kepada Tuhan memberikan kekuatan spiritual luar biasa. Sedikit melupakan siksa yang aku alami. Sejak tragedi setrikaan itu aku sakit. Tubuhku gosong, kulit punggungku terkelupas. Aku tidak keluar dari kamar hanya berbaring di tempat tidur.

Ibu majikanku tidak berteriak-teriak seperti biasa. Dia takut, aku mati. Untuk pertama kali dia memanggil dokter. Dokter menyarankan majikan membawaku ke rumah sakit. Lalu memberiku obat nyeri dan salep. Tak mau ambil resiko majikan menelpon agen untuk menjemputku. Perwakilan agen datang. Agen justru memarahiku dia tidak mau ganti rugi dengan pulangnya aku sebelum kontrak habis.

” Tak kuat lagi aku bekerja di sini”, kataku.

” Cobalah bertahan, sabar. Namanya juga bekerja sama orang kalau kontrakmu habis. Gampang bisa ganti majikan atau pulang”.

Aku cukup berdabat alot dengan perwakilan agen. Aku putus asa. Selama seminggu aku diijinkan tinggal di tempat agen. Setelahnya agen membawaku ke majikanku lagi. Kali ini agen mengancam keras. Mereka tidak mau rugi.

Kalau aku putus kontrak aku diharuskan mengganti uang setinggi gunung. Aku bimbang harta apa yang ku punya untuk menebus hutang itu.

Dengan luka yang masih basah. Air mata berdarah aku kuatkan hati kembali ke majikanku.

Aku coba samarkan luka bakar di punggungku. Satu minggu-dua minggu luka itu mengoreng.

Sudah.. hujan, aku tak sanggup meneruskan cerita ini. Berhentilah menangisi keadaanku. Aku sudah kenyang menenggak air mata. Aku bosan dengan tangis.

Selama dua tahun aku berteman dengan air mata. Hingga akhirnya aku sudahi tangis itu. Mataku terbakar marah. Api yang mengendap dalam dada telah berkobar seketika.

Saat siang itu, siang dimana aku tidak lagi melantunkan wirid. Majikan perempuan memakiku karena kelalaian tidak menjemur seprei. Aku kembali dipukuli, aku ambruk ke lantai dengan jeritan nelangsa. Dia mengambil setrika di atas meja. Kali kedua dia akan menyetrikaku. Kerudungku ditarik. Rambutku terurai bebas. Dia menjambak keras. Dan..

Dalam jeritanku aku sebut namaNya, Ya Allah ampuni aku, aku rogoh pisau buah dari sakuku. Aku tusukan ke perutnya. Dia pun menjerit, diikuti hembusan nafasnya hilang. Tanpa sadar aku kembali menangis, entah apa.
Ketakutan menyergapku. Tubuhku gemetar. Namun batinku tertawa puas, mungkin setan bertepuk tangan atas apa yang kulakukan.
—————–
Hujan di luar telah berhenti. Aku lega telah bercerita pada hujan. Hujan akan menghanyutkan kisahku menuju muara, lautan. Di laut cerita itu akan menguap, menjadi rintik-rintik embun lalu menjadi hujan. Hujan yang jatuh mengabarkan kisahku pada tanah. Dan kamu, sayang, tidak dapat menangkap kisah itu. Karena tanah lebih dulu menguburnya. Bersama jasadku nanti.

Cilacap, 1 Oktober 2017
Biodata
Winda Efanur FS, penulis lepas. Sempat menimba ilmu agama di Pon-Pes Rubat Mbalong Ell Firdaus, Kedungreja, Cilacap. email : efanurw@gmail.com.

(Visited 51 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *