Selasa, Desember 12, 2017
Home > OASE > Spirit Santri Peacekeeper Indonesia

Spirit Santri Peacekeeper Indonesia

Beberapa sumber menyebutkan bahwa kata santri berasal dari kata “ sastri “ yang berarti melek huruf atau berasal dari kata “ Cantrik “ ( bahasa sansekerta atau jawa ) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru. Kata santri juga merupakan gabungan antara kata “ saint “ ( manusia baik ) dan kata “ tra “ ( suka menolong ), sehingga kata pesantren berarti tempat pendidikan manusia baik-baik. Kata santri apabila ditulis dengan menggunakakan tulisan arab menjadi ( سنتري ) sebuah kata yang terdiri dari huruf س  ن  ت  ر ي , masing-masing huruf ini mempunyai makna sebagai berikut :

س : سالك إلى الأخرة ( Saalik ila al-Akhirah ) Santri harus menuju jalan ke  akhirat. Jalan menuju akhirat didapat dengan mengembara guna menuntut ilmu di tempat yang dinamakan pesantren, di tempat iniliah para santri digembleng dan diajarkan berbagai macam keilmuan. Setiap santri diajarkan nilai-nilai moralitas/akhlaq, ilmu agama/ushul al-din, sastra dan keilmuan penunjang lainnya yang menjadi tujuan dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat serta bernegara. Seorang santri diharapkan mempunyai karakter sholih secara individu karena keilmuan yang dimilikinya dan menjadi agen of change atau mushlih  dengan menebarkan kebaikan dan menyebarkan kebenaran sehingga terciptalah keshalihan sosial dikarenakan kuatnya keilmuan seorang santri yang didukung dengan moralitas yang tinggi akan menjadi teladan bagi sekitarnya.

ن : نائب عن المشايخ و ناسب العلماء  ( Naaib ‘an al-Masyaayikh wa al-Ulama ) Santri harus mampu menjadi wakil para guru dan penerus ulama. Para ulama adalah pewaris nabi, rasul adalah pemimpin umat yang dilanjutkan oleh para ulama. Santri merupakan kader para ulama yang dipersiapkan dengan belajar di pesantren. Proses pembelajaran di pesantren di dampingi dan diasuh oleh para guru atau masyayikh (kyai) dan asaatidz, sehingga kaderasi pemimpin umat akan terus berlanjut dan berkesinambungan dengan sanad keilmuan yang tersambung sampai rasul. Peran dan fungsi ulama dalam masyarakat sama halnya dengan rasul, sebagai pengayom dan pelayan masyarakat umat dalam segala dimensi. Tentunya diharapkan seorang santri yang nantinya akan menjadi ulama mempunyai kepekaan-kepekaan sosial  yang mengerti dan memahami atas problematika dan perkembangan serta tuntutan zaman akibat arus globalisasi dan modernisasi, serta dapat menyelesaikan  dengan arif dan bijak atas apa yang terjadi di masyarakat.

ت : تارك المعاصي ( Taarik al-Ma’aashi ) Santri harus menjadi orang yang terdepan dalam meninggalkan kemaksiatan, pelanggaran norma sosial dan hukum, sebagai kader dari para ulama yang dilandasi dengan keilmuan keagamaan yang kuat serta memiliki standar moralitas yang tinggi, santri diharapkan menjadi pelopor dan konsisten dalam memegang nilai-nilai ajaran islam dan hukum yang berlaku di tengah masyarakat selagi tidak bertentangan dengan syariat islam.

ر : راغب في الخيرات ورضى الله ( Raaghib fi al-Khairaat wa Ridlalloh ) Santri harus senang kepada hal-hal yang baik dan berorientasi mencari ridla Allah SWT. Santri sebagai calon pemimpin umat harus mampu mengaplikasikan apa yang telah mereka dapatkan dan sejauh mana pula ia berinteraksi dalam membangun hubungan sosial kemasyarakatan ( hablun minannas ) dan memegang teguh hubungan dengan tuhannya ( hablun minallah ). Santri menjadi tauladan dalam hal kebaikan dan berorientasi semata-mata hanya memohon rahmat dan ridla Allah SWT.

ي : اليقين و يرجو السلامة في الدين و الدنيا والأخرة ( al-Yaqiin wa Yarjuu al-Salamah fi al-Din wa al-Dunya wa al-Akhiroh ) Dalam setiap aktifitasnya mempunyai keyakinan yang kuat dan senantiasa mengharap keselamatan di dalam agama, dunia dan akhirat. Santri sebagai garda terdepan dalam mensyiarkan agama harus mempunyai keyakinan yang mapan, maksudnya adalah ditopang dengan metode dan strategi yang baik dan didukung dengan perencanaan yang matang. Menyampaikan agama dengan cara yang santun, terprogam dan melaksanakan evaluasi, sehingga keselamatan dan kedamaian tercipta di masyarakat serta terhindar dari terjadinya kegaduhan sosial. Menyampaikan agama dengan santun dan mengedepankan akhlaq akan membawa wajah islam yang sejuk dan damai sehingga tujuan menggapai keselamatan diakhirat akan tercapai dengan menebarkan islam rahmatan lil’alaamiin.

Gambaran di atas merupakan ilustrasi peran dan tanggung jawab seorang santri dalam pengembangan sosial masyarakat, namun demikian apabila spirit ini dapat ditanamkan pada setiap peacekeeper Indonesia yang sedang bertugas di bawah bendera PBB tentulah sangat tepat sekali karena merekalah yang menjadi harapan dalam mengembalikan kedamaian pasca konflik sosial politik yang ada, terlebih mayoritas terjadinya konflik tersebut terdapat di Negara-negara yang penduduknya sebagian besar beragama islam. Bekerja berorientasi berimbang antara keduniaan dan akhirat serta mengisi waktu luang dengan belajar dan mendalami ilmu agama, menjadi pengayom dan pelayan dalam segala kondisi, konsisten dalam mengemban mandate yang diamanatkan, menghormati norma dan  kearifan lokal, menjadi pelopor tauladan kebaikan sesama peacekeeper Indonesia dan dalam interaksi membangun hubungan sosial kemasyarakatan karena semata-mata hanya memohon rahmat dan ridla Allah SWT serta yang paling pokok adalah adanya perencanaan yang tersusun rapi dalam melaksanakan progam kegiatan, menggunakan metode dan strategi yang tepat serta melaksanakan analisa dan evaluasi setelah pelaksanaan kegiatan. (Brigadir Miftahudin,S.Pd.I,S.H)

(Visited 9 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *