Kamis, Desember 14, 2017
Home > Berita Pendidikan > Seribu Jalan Menuju Literasi

Seribu Jalan Menuju Literasi

Dengan tergopoh Anton lekas memungut satu persatu buku-bukunya yang jatuh. Hampir saja, buku-buku tersebut menjadi basah terkena tumpahan minyak.

Waktu sudah hampir menunjukan pukul 17.00 WIB. Itu artinya, jadwal memulai dagang dan membuka perpustakaan umum segera tiba. Namun, apadaya, motor yang biasanya mengantar untuk berdagang tak sengaja ia senggol hingga roboh, membuatnya telat berangkat tepat waktu.

Anton Wibowo, pedagang jajanan otak-otak adalah salah satu potret pegiat literasi di Cilacap khususnya di kecamatan Sidareja. Dengan perjuangan yang tidak mudah, Anton yang gemar membaca itu ingin menebar virus membaca buku kepada masyarakat terutama kaum muda.

image

Seratusan buku bermacam genre sengaja ia bawa ke lokasi berdagang di Alun-alun Sidareja untuk dibaca pengunjung secara gratis tanpa dipungut biaya. Bahkan, bisa dibawa pulang untuk dibaca di rumah.

Sambil berjualan, Anton dengan dibantu lima orang temannya itu, juga menggelar lapak perpustakaan gratis. Tidak lain tidak bukan, hal itu bertujuan untuk meningkatkan minat membaca di masyarakat umum.

“Saya dan temen-temen punya inisiatif membuat gerakan. Ya ini, gerakan membaca,” kata Anton kepada portalcilacap.com.

Lebih dari itu, Anton yang hobi menulis, juga berharap bukan hanya “virus” membaca saja yang ia tebar.  Kemauan menulis nantinya juga akan ia tularkan.

Masih bersama teman-teman seperjuangannya, Anton menjuluki komunitasnya yang belum lama dibentuk itu dengan nama GEMBUS (Gerakan Membaca Buku Sidareja).

“Sementara, kami fokus di daerah kampung kita (Sidareja) dulu,” ucap Anton.

Menengok kebelakang, seperti dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

Salah satu kegiatan didalam gerakan tersebut adalah kegiatan 15 menit membaca buku nonpelajaran sebelum waktu belajar dimulai.

Kegiatan tersebut mengandung magsud untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik.

Entah disengaja atau tidak, Anton secara tidak langsung mendukung gerakan tersebut dengan mengimplementasikannya dikehidupan masyarakat dan diluar lembaga pendidikan formal.

“Keseharian saya kan berdagang, sering lihat anak-anak sekolah sehabis belajar di sekolahan terkadang waktunya habis di Handphone,” kata Anton.

Berangkat dari keprihatinan Anton dan teman-teman anggota Gembus, tentang kurang minat membaca lalu muncul ide cemerlang untuk membuat perpustakaan gratis.

Keberuntungan berpihak kepada Anton. Anton yang memang hobi membaca, dipertemukan dengan teman-teman yang se”aliran” dengannya. Sebagian besar, koleksi buku-buku milik perpustakaan Gembus adalah dari sumbangsih dari teman-temannya.

“Alhamdulillah, Yang Maha Kuasa, mempertemukan sama temen-temen yang peduli juga,” tandas Anton.

Kurang Minat

Semenjak bulan Ramadhan, Anton tidak berjualan pada siang hari. Banyak waktu siangnya untuk istirahat dan mempersiapkan bahan dagangannya.

Setiap sore, sekira pukul 17.00 WIB biasanya Anton sudah siap siaga di Alun-alun Kecamatan Sidareja. Tak lain dan tak bukan, tentu saja untuk berjualan. Setelah selesai mempersiapkan lokasi dan memanaskan minyak goreng. Biasanya Anton langsung menggelar lapak buku.

Beralaskan karpet bekas, lumayan lebar untuk sekedar memajang buku dan duduk-duduk. Baru setelah berbuka, teman Anton anggota komunitas Gembus berdatangan membantu menjaga lapak.

Pada saat portalcilacap.com mengunjungi lapaknya, hanya beberapa saja yang terlihat membaca atau sekedar memilih judul yang menarik.

Tiga wanita muda, umur belasan tahun, terlihat asyik ngobrol. Mereka mengaku baru tahu kalau ada perpustakaan gratis di Sidareja.

Ketiga gadis cantik, yakni Naila, Almira dan satu lagi nampak malu menyebutkan namanya, atau takut mungkin.

Walaupun masih umur belasan, ketiganya merupakan mahasiswi Universitas Swasta di Cilacap.

Naila, Mahasiawi Fakultas Sastra Indonesia STKIP Darussalam Karangpucung tersebut mengatakan, minat membaca dikalangan muda sudah mulai luntur. Dengan adanya perpustakaan gratis ini, dia mengharapkan dapat menumbuhkan kembali minat membaca dikalangan masyarakat.

“Semoga dapat menumbuhkan minat(membaca) kembali. Sekarang cenderung lebih memilih main gadget ketimbang baca (buku) si ya,” kata Naila.

Lebih lanjut, Naila mengharapkan, inovasi dan ide membuka perpustakaan gratis seperti Anton dapat dilihat pihak terkait, agar Anton-Anton lain diluar sana dapat mengimplementasikan hobi dan minat membaca agar terwujud program yang dicanangkan pemerintah yakni literasi.

(Rsh/pc)

(Visited 131 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *