Kamis, Desember 14, 2017
Home > Spesial > Sedekah Dan Kuota Rejeki

Sedekah Dan Kuota Rejeki

gambar gratis pixabay

Saya tidak pernah meragukan manfaat sedekah. Bahwa ia akan membuat kita semakin kaya, itu sudah saya yakini benar-benar. Tentang bagaimana jalannya, itu menjadi rahasia Tuhan yang sebaiknya kita biarkan saja tak terpecahkan.

Saya pernah mengikuti pengajian seorang ustad yang memiliki teori sangat meyakinkan tentang sedekah. Teori yang dinukilnya dari Al-Qur’an tentang manfaat sedekah. Teori yang luar biasa memotivasi orang untuk bersedekah karena “janji” yang menyertainya. Saya ingat betul dalam pengajian-pengajian, beliau membandingkan teori matematika konvensional yang menghitung 10-1=9, dengan matematika sedekah yang menghitung 10-1=19.

Penjabarannya sungguh sederhana. Jadi, ketika kita mengurangkan 1 terhadap 10 harta kita tidak untuk sedekah, maka hasilnya akan menjadi 9 saja. Sedangkan ketika kita menyedekahkan 1 dari 10 harta kita, maka hasilnya akan menjadi 19. Itu karena 1 harta kita akan dibalas Tuhan dengan 10 kali lipat. Hitung saja jika yang disedekahkan adalah 2 atau 3.

Dahsyat, ya? Iya. Kemudian orang berlomba-lomba menyedekahkan uang, perhiasan, kendaraan, atau apapun, demi balasan dari Tuhan yang demikian besar.

Secara umum, siapa, sih, yang tidak ingin kaya? Bekerja keras memang jawaban. Tapi kecenderungan untuk memperoleh hasil sebanyak-banyaknya dengan kerja sekecil-kecilnya, membuat sedekah sering dianggap sebagai solusi briliant. Kaya, disayang Tuhan pula. Luar biasa!

Teori itu tidak salah. Sungguh. Tapi saya tidak sepenuhnya setuju. Rasanya tidak pantas kalau saya main hitung-hitungan semacam itu kepada Tuhan. Berapa yang bisa kita sedekahkan, seikhlas apa, semanfaat apa, sungguh tidak elok bila memastikan Tuhan akan memberikan balasan sesuai kemauan kita.

Idealnya, sedekah memang tak perlu ditumpangi oleh kepentingan apa-apa. bahkan harapan untuk surga sekalipun. Sedekah, ya, sedekah saja. Sudah.

Tapi memang berat sekali untuk bisa sedekah dengan selepas-lepasnya. Bagi orang-orang yang masih mengarap-harap bertambah kaya, seperti saya, perkara sedekah ini sungguh tidak sederhana. Masalahnya adalah ketika berusaha ikhlas sedangkan hati tetap meminta.
Lalu kita harus berteori apa?

Silakan saja kalau Anda memakai teori 10-1=19. Tapi saya sungguh-sungguh tidak berani menghitungnya sedemikian rupa. Terlalu banyak rejeki Tuhan berikan selain harta yang tidak bisa dibantah. Sungguh dangkal jika kita hanya berpikir janji Tuhan untuk melancarkan rejeki orang yang bersedekah hanya dari banyaknya harta yang bertambah. Kesehatan dan persahabatan, bukankah itu juga rejeki?

Dari mengaji pula saya tahu bahwa sejak kita diciptakan, Tuhan telah mengatur jodoh, rejeki, dan maut masing-masing manusia. Jadi sebetulnya kita sudah memiliki kuota rejeki. Tuhan memberi jatah rejeki pada kita hanya sebatas kuota itu saja. Bila kita masih miskin, mungkin saja kuota kita belum terpenuhi, dan bisa diisi dengan bekerja lebih keras lagi. Boleh jadi saat ini kouta rejeki kita sudah penuh, padahal masih miskin. Ya, itu memang jatah kita hanya sekian saja.
Ingin lebih? Bersedekahlah.

Saya meyakini sedekah tidak akan pernah membuat kita menjadi miskin. Bersedekah membuat rejeki semakin lancar, meski kuota dari Tuhan tidak besar. Teorinya jelas bukan seperti hitung-hitungan matematika di atas tadi.

Satu hal yang tak boleh kita lupa adalah bahwa rejeki akan bermanfaat saat mengalir, bukan menumpuk. Karena inilah kita perlu menciptakan ruang untuk aliran rejeki. Ruang itu tercipta saat kita mengeluarkan sebagian harta untuk sedekah. Rejeki ini seperti air, ia akan segera memenuhi ruang yang ditinggalkan isi.

Lemintir. Lancar mengalir sedikit demi sedikit, akan jauh lebih memberi manfaat dan kebahagiaan daripada yang diam menumpuk. Bila aliran semakin deras dan yang tersimpan semakin banyak, mungkin saja kita tidak menyadari bahwa kuota rejeki kita sebenarnya besar, namun jalannya tersumbat. Saat sedekah, mungkin sekali yang keluar itu adalah sumbatan yang tidak kita tahu sebelumnya.

Perkara aliran rejeki sebanyak apapun, bukanlah hal mustahil jika Tuhan berkehendak. Seberapa besar rejeki akan datang, itu 100% kuasa Tuhan yang tidak elok kita campuri dengan lancang memakai hitung-hitungan layaknya pedagang. Bila terlihat ada orang yang sepertinya terus-menerus dialiri rejeki, mungkin saja ia adalah orang yang rajin mencipta ruang kosong pada kuota rejekinya sendiri. Dalam keadaan seperti itu, ia akan menjadi jalan aliran rejeki bagi orang lain. Semakin deras alirannya, seharusnya ia menjadi lebih bermanfaat bagi sesama.

Spirit sedekah memang harus kita jaga. Karena manfaatnya sungguh luar biasa. Bukan hanya manfaat untuk diri sendiri, melainkan juga manfaat untuk orang lain. Indah betul jika semakin banyak orang yang saling bantu dan meringankan beban sesama dalam bingkai sedekah. Tentang teori mana yang akan dipakai, itu hak masing-masing orang.

Selamat bersedekah.
——o0o——
Bunda Erin Cipta, Sampang, Oktober 2017
Terinspirasi dari melihat kegiatan Gerak Sedekah Cilacap.
~o00o~

(Visited 43 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *