Selasa, Desember 12, 2017
Home > PESANTREN > Peran Pondok Pesantren Dalam Proses Berdirinya NU bag.1

Peran Pondok Pesantren Dalam Proses Berdirinya NU bag.1

Portalcilacap.com – Sebagai lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan berbagai pengetahuan berbasis  paham Ahlussunnah Waljamaah, maka sudah sewajarnya jika pondok pesantren menghasilkan alumni yang berkualitas terutama dalam pengetahuan dan pengamalan ajaran agama Islam di Indonesia. Kenyataan pesantren yang lahir dan tumbuh  bersama budaya masyarakat  setempat yang berbeda-beda, sangat cocok untuk memahami dan menyelesaikan persoalan bangsa Indonesia yang beragam.

Dengan dasar keakraban antar Pondok Pesantren dengan budaya bangsa yang majemuk itulah maka pesantren akan peduli terhadap tradisi  yang telah ada meskipun disaat yang bersamaan juga teguh menerapkan prinsip ajaran agama Islam. Bagi pesantren, baik budaya setempat maupun nilai Islam harus disandingkan secara terpadu dan saling melengkapi. Oleh karenanya pesantren tidak bermaksud  memisah-misahkannya dengan cara membela salah satunya dengan cara radikal. Dengan berpegang pada prinsip  Ahlussunnah Waljamaah yang moderat  dan toleran, kalangan ulama pesantren melindungi tradisi yang telah ada  sepanjang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

img_20161018_132513

Peristiwa pada tahun 1924 di Arab Saudi yang hendak memberangus kebebasan bermadzab  spontan mendapat penentangan dari kalangan ulama pesantren. Peristiwa ini bermula dari tragedi penggulingan kekuasaan di Makkah dan Madinah oleh Ibnu Saud terhadap raja yang berkuasa sebelumnya, Syarif Husein. Di bawah kekuasaan Ibnu Saud, pemahaman agama Islam di Arab dipaksakan secara radikal untuk mengikuti paham Wahabiyah yang puritan dan anti madzhab. Sementara pada bulan Juni 1926, penguasa Hijaz akan mengadakan muktamar Islam dengan mengundang pemimpin Islam seluruh dunia. Penguasa Hijaz yang mengikuti paham Wahabiyah selalu menggencet orang-orang bermadzhab empat di Makkah dan Madinah, padahal sebelumnya kedua daerah ini sudah mengikuti madzhab empat dalam urusan keagamaan. (bersambung)

(sumber : LPM NU Jawa Tengah)

(Visited 73 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *