Selasa, Desember 12, 2017
Home > OPINI > Lebaran Kampungku, Dari Kue Sagon Sampai Dengan Menikah

Lebaran Kampungku, Dari Kue Sagon Sampai Dengan Menikah

Lebaran atau idul fitri di daerah Cilacap atau yang dikenal sebagai daerah ngapak terasa sangat spesial, beragam keunikan dan kesan tidak akan mudah bisa dilupakan sampai kapanpun oleh putra daerah Cilacap meskipun telah lama merantau ke daerah lain bahkan ke luar negeri. Rasa rindu pasti akan selalu menghinggapi mereka yang pernah merasakan lebaran (badanan dalam istilah cilacap) di masa kecil. Bagaimana tidak, karena di daerah kami moment lebaran memiliki banyak moment-moment yang sangat kental dan unik serta menjadi hal yang sangat indah ketika untuk dikenang saat berada di daeral lain.

Sesuatu yang sangat penting di moment lebaran adalah adanya makanan atau kuliner khas dihari lebaran, ya makanan wajib yang harus ada di setiap rumah yaitu makanan yang dibuat oleh para ibu-ibu dengan dibantu anaknya secara bersama-sama dengan para tetangga terdekat. Budaya membuat kue bersama-sama tetangga menjadi salah satu moment yang sangat spesial bagi warga Cilacap. Adapun beberapa kue khas lebaran di daerah kami antara lain adalah kue sagon, makanan yang pada masanya pernah menjadi makanan wajib disetiap rumah setiap moment lebaran, yaitu kue yang terbuat dari tepung beras, parutan kelapa serta gula sebagai pemanisnya, dengan ditambah pewarna merah kemudian tinggal di panggang dan tunggu sampai keras setelah itu kue siap dihidangkan menggunakan toples besar bening. Warna kue sagon yaitu merah putih semakin membuat suasana lebaran di daerah kami menjadi Indonesia banget.

Selanjutnya adalah masjid utama dimasing-masing desa yang saat idul fitri atau moment badanan di daerah Cilacap menjadi penuh sesak sampai harus membuat tribun untuk menampung para jamaah sholat id yang memang rata-rata mereka selama ini bekerja di daerah lain atau merantau. Masjid mulai didatangi oleh para jamaah sejak jam 5 pagi dengan para jamaahnya yang khas yaitu baju baru dan bahasa dengan logat kotanya yang khas. Setelah shalat seperti biasa adalah moment yang ditunggu oleh para jamaah yaitu saling bersalaman dan dilanjut dengan tradisi menaikan balon dan petasan yang dibuat bersama-sama sebelum lebaran oleh para warga. Wah suasana yang sangat luar biasa.

Ada hal lain lagi yang sangat luar biasa, yaitu moment silaturahmi, dimana setiap orang secara bergantian pergi ke rumah tetangga untuk saling meminta maaf dengan cara yang khas atau sungkeman, namun ada yang unik lagi saat anak muda yang melakukannya yaitu cukup dengan berkata kosong-kosong maka kami menganggapnya sudah saling memaafkan. Ya cilacap memang begitu,

Masyarakat Cilacap sangat mensakralkan hari idul fitri. Semua orang berduyung-duyung pulang ke rumah stelah setahun merantau. Momoen lebaran menjadi hal yang sangat spesial bagi masyarakat di daerah kami, tidak ada orang yang tidak merasa bersalah, semua mengajui salah dan saling berebut maaf, begitu indah idul fitri di daerah kami.

Yang terakhir adalah hal yang sangat dinantikan, yaitu di Cilacap ada satu tradisi menikah saat tanggal 1 syawal atau hari lebaran, ratusan pasangan setiap tahunnya siap dinikahkan di hari lebaran, bukan karena lebih murah biayanya karena justru palah lebih mahal, namun masyarakat Cilacap percaya kalau menikah di tanggal 1 syawal maka semua hitung-hitungan jawa, seperti weton dan lain-lain tidak berlaku. Begitulah lebaran di Cilacap kami, cilacap ngapak. (AF)

(Visited 76 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *