Kamis, Desember 14, 2017
Home > Sastra > Kisah Sepasang Sepatu Yang Malang

Kisah Sepasang Sepatu Yang Malang

Kisah sepatu yang Malang

Di luar sana langit mendung. Hujan rintik-rintik turun dari langit. Tak lama hujan turun semakin deras. Tubuhku basah kuyup terkena cipratan air hujan. Aku menggigil kedinginan. Kulitku semakin pucat dan membiru. Cipratan lumpur mengotori tubuhku. Aku yang berteduh di teras kontrakan tidak bisa menghindari hujan. Aku berharap Randi menolongku ke tempat yang lebih aman.

Randi tak kunjung memindahkanku padahal kulit tubuhku yang robek telah terkelupas terkena hujan. Aku berteriak dan merintih betapa ngilunya tubuhku. Di dalam kontrakan aku melihat Randi tengah duduk di sebuah bangku. Kakinya selonjor, tangannya menggenggam secangkir kopi dan matanya menatap layar persegi berwarna-warni. Aku lupa namanya kalau tidak salah nama benda itu televisi.

Iya, aku tahu nama itu dari Tomi Si Sandal Jepit. Saat Randi dan aku pergi ke musola satu tahun yang lalu. Di sana aku berkenalan dengan Tomi. Tomi adalah sandal jepit milik Pak Haji. Tomi kulitnya putih bersih, talinya berwarna merah. Aku dan Tomi sangat akrab. Kami bercerita pengalaman masing-masing. Tomi sangat kagum denganku.

Menurutnya pengalamanku luar biasa. Awalnya aku hanya seonggok sepatu di toko sepatu bekas. Di sana aku hidup kesepian karena sepatu-sepatu di sana tidak laku. Setiap hari kami berdoa agar ada pembeli yang akan menolong kami. Hingga doa itu terkabul, pada satu hari yang mendung seorang ibu datang ke toko. Ibu berkerudung biru itu tertarik padaku. Ibu itu memungutku dirabanya badanku yang tegap, kulitku yang bersih, dan tali hitam yang kuat. Ibu itu akhirnya membeliku. Sebelum di masukan kardus sepatu. Aku menitikan air mata selamat tinggal kepada kawan sepatuku di sana.

Aku sangat bahagia bertemu dengan pemilik baruku. Sesampainya di rumah ibu itu membuka kardusku. Tangannya yang kasar begitu lembut mengambilku. Dia mengambil tubuhku yang kanan diikuti yang kiri. Lalu aku diletakannya di atas meja. Ibu itu mengambil lap kering dan baskom air. Dia mencuci tubuhku. Debu-debu yang menempel tubuhku luntur. Aku merasakan kehangatan sentuhan dari urat-urat tangannya yang rapuh. Setelah itu aku disemir hitam. Aku tampak lebih tampan dan muda dengan penampilan baruku. Lalu aku diletakan kembali di kardus sepatu.

Di dalam kardus, aku mendengar seseorang laki-laki datang.
“Assalamualaikum bu”
“Waalaikumsalam, nak. Nak sini ibu punya hadiah buatmu. Ibu tadi habis jual perhiasan peninggalan ayahmu. Ibu kan sudah tua buat apa pakai perhiasan. Ibu jual saja, terus waktu pulang ibu tak sengaja lihat sepatu bekas. Ibu lihat sepatu itu bagus buat kamu”, Ibu itu menyerahkanku kepada anaknya.

“Ibu tidak perlu repot-repot bu, harusnya Randi yang membelikan ibu”
“Ah, tidak apa-apa itu cinderamata dari ibu. Besok kan kamu berangkat ke Solo, mulai kerja di bank. Meski bukan baru sepatu itu bisa kamu pakai”.

Ibu dan anak lelakinya saling berpelukan. Tak terasa air mataku menetes. Andai saja aku punya ibu dan ayah. Tentu aku bisa bahagia seperti mereka. Tapi aku hanya benda yang diciptakan untuk mempermudah manusia. Meski begitu aku bahagia dirawat ibu dan Randi.

Randi sangat menyayangiku karena aku hadiah dari ibunya. Aku saksi perjuangan Randi meniti karirnya dari teller bank hingga menjadi manajer. Kemana Randi pergi aku selalu bersamanya. Randi lelah aku ikut lelah. Seperti waktu Maghrib setahun yang lalu, Randi sepulang dari kantor mengajakku berlari. Dia memburu waktu sholat berjamaah di mushola kontrakannya. Aku yang kelelahan sedikit terhibur dengan mengobrol dengan Tomi. Tapi itu dulu, tak bisa ku percaya itu Maghrib terakhirku dengan Randi dan Tomi.

Sehabis Isya dan setelah naik jabatan Randi membeli sepatu baru. Sepatu impor berkelas yang amat mahal. Sejak saat itu aku terlantar. Randi tidak merawatku seperti dulu. Dia meletakanku di teras kontrakannya. Aku kedinginan dan kepanasan dia tidak peduli. Hingga tubuhku jelek dan kusam. Beberapa kulitku memudar dan robek. Apalagi hujan deras seperti ini.

Hujan di luar sana semakin besar. Randi menutup pintu kontrakannya. Air hujan masuk ke teras kontrakan. Tubuhku hanyut oleh hujan. Bagian tubuh kananku nyangkut di pohon. Bagian kiriku hanyut terbawa air. Aku sakit luar biasa. Kehilangan separuh tubuhku seperti kehilangan hidup. Air mataku mengalir bersama hujan. Di saat seperti ini aku teringat Tomi, kawan-kawanku di toko sepatu bekas dan teringat ibunya Randi. Mereka menyayangiku dan selalu menyayangiku. Aku merindukan mereka.

Cilacap, 23 Desember 2016

Biodata
Winda Efanur FS , penulis lepas. Sempat mendalami ilmu agama di Pondok Pesantren Rubat Mbalong Ell Firdaus, Kedungreja, Cilacap. Kontak efanurw@gmail.com.

(Visited 103 times, 1 visits today)

One thought on “Kisah Sepasang Sepatu Yang Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *