Kamis, Desember 14, 2017
Home > Sastra > Kisah Klasik Sepasang Kekasih Gelap

Kisah Klasik Sepasang Kekasih Gelap

Jika ada pertandingan tabah, mungkin aku adalah juaranya. Meski hanya tingkat kecamatan.

Aku tak pernah memuntahkan keluhan, bahkan serapah padanya meski kelakuannya padaku sungguh bajingan. Aku tak pernah lebih dari sekadar ban serep dalam perjalanan cintanya, perjalanan hidupnya. Ia membawaku, melibatkanku dalam banyak hal, namun tak pernah menjadikanku pemeran utama. Ia meletakanku di belakang, tersembunyi, dan tidak penting.

Tapi aku bisa apa, jika kesepakatan awal telah kami buat, dan aku bersumpah akan mematuhinya? Aku tidak seperti dirinya yang berkali-kali ingkar janji, bahkan tak hanya padaku saja.

Aku bertahan untuk sebuah alasan konyol yang ia sendiri bahkan tak memilikinya; cinta.

Lelaki pemuja syahwat dan duniawi sepertinya tak pernah memiliki cinta. Ia menikah, dengan orang lain tentu saja, karena pertimbangan untung rugi belaka. Ia memilih istri yang tak merepotkan, bahkan jika bisa selalu memberi keuntungan.

Aku pun sebenarnya dipacari olehnya atas dasar alasan serupa. Aku banyak membawanya ke pergaulan para pesohor yang membantu bisnisnya. Tak pernah kurepoti ia dengan benda-benda mahal yang menguras kantongnya. Tak pernah kuminta apa-apa.

Hei, minta apa? Aku bahkan lebih kaya darinya. Jauh lebih kaya. Aku hanya minta ia tak berhenti mencintaiku. Itu saja. Ia berjanji, dan aku memegangnya. Aku tahu tak akan pernah bisa minta lebih dari itu. Ia lelaki beristri.

Aku tetap dalam posisiku, bertahun-tahun lamanya. Hubungan kami tetap berjalan, meski ia juga berhubungan dengan banyak perempuan. Aku tahu semuanya, dan kenal baik lebih dari separuh perempuan dalam hidupnya.

Ia kerap datang padaku, berkeluh kesah tentang selingkuhannya yang dijambak selingkuhannya yang lain di sebuah mall. Atau mengeluh bingung saat selingkuhannya entah yang keberapa, menuntutnya sejumlah uang, padahal rekeningnya diawasi ketat oleh Sang Istri. Akhirnya aku juga yang memberinya uang, untuk selingkuhannya itu.

Setelah itu ia akan menghilang. Sulit dihubungi dan ditemui.

Ia bajingan. Benar-benar bajingan.

Yang membuatku tak pernah mendapat julukan “bodoh” dari siapa pun adalah karena tak seorang pun tahu kami sepasang kekasih.
****

Hari ini sebuah fragmen terulang. Ia datang tiba-tiba setelah enam bulan menghilang. Tentu saja lengkap dengan keluhan dan napsu yang menggebu. Aku menerimanya seperti sebelum-sebelumnya. Dengan sambutan sebaik-baiknya.

Kamar hotel–tentu saja aku yang bayar, waktu tak terbatas, dan cinta yang utuh seperti awal kami bertemu. Kami bertemu dalam rahasia.

“Istriku seperti gajah” ujarnya dengan nada hampa.

“Gendut dan berbelalai?” tanyaku konyol.

“Bukan tubuhnya, melainkan ingatannya,”

Lelaki itu terpekur setelah membuang napas dengan begitu berat. Aku tergelak. Gelak panjang yang membuat tubuhku terguncang-guncang.

“Apa saja yang diingatnya?” tanyaku lagi masih diselingi satu-dua gelak.

“Setiap tanggal dari setiap peristiwa tentang kami,” jawabnya mengambang.

“Mengapa hal seperti itu membuatmu murung? Bukankah itu baik?”

“Tapi aku sebaliknya. Aku tak ingat satu tanggal pun,”

“Dasar laki-laki!”

“Dia juga ingat setiap janji yang aku ucapkan, meski sudah berlalu sangat lama,”

“Ya. Aku pun begitu. Jika seseorang berjanji padaku, aku akan menyimpannya di memori utama,”

“Yang paling bikin stress, dia ingat semua mantan pacarku, dan semua yang pernah menjadi selingkuhanku. Semuanya!”

Sampai di titik ini sisa gelakku hilang seketika. Ada hawa dingin merayap naik ke tengkukku. Aku gentar. Meski tak pernah ada tanda-tanda terdeteksi, aku adalah pacarnya juga.

Ah, sebenarnya bahkan lebih dari itu. Aku selalu menjadi kekasih–tak sekadar pacar, tempat lelaki ini singgah sewaktu-waktu.

Aku mengenal istri Ardian, Stella. Perempuan kuat dengan tatapan tajam. Cantik dan mandiri. Heran juga, bagaimana bisa perempuan sekelas Stella mau diperistri bajingan tukang selingkuh seperti Ardian.

“Semuanya?” tanyaku meyakinkan.

“Oh, hanya yang perempuan,”

Napasku terkumpul di batang tenggorokan. Mataku terpejam. Tiga detik. Lalu kubuang seluruh napas penuh kelegaan.

Ardian tersenyum. Tangannya meraih wajahku, menelusuri pipi dan dagu yang mulai kasar ditumbuhi bulu. Aku lupa bercukur pagi tadi.

**SELESAI**

Catatan: versi singkat cerpen ini pernah publish di laman fb saya. Belajar menulis bisa dari mana saja, dan dengan apa saja. Belajar yang paling efektif adalah dengan SEGERA menuliskannya. Percuma menguasai teori jika tak segera praktek. Just write! (Bunda Erin Cipta)

(Visited 56 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *