Rabu, Oktober 24, 2018
Home > BERITA > Kisah Bom Atom Buatan Indonesia

Kisah Bom Atom Buatan Indonesia

Bom hidrogen (termo nuklir) milik AS berhasil diujicoba di Kepulauan Marshall (Pasifik) pada 1954. Waktu itu membuat Sukarno khawatir wilayah Indonesia timur terkena dampak radiasi.

Sukarno lalu mengeluarkan Keppres No 230/1954 tentang pembentukan Panitia Negara untuk Penjelidikan Radio-Aktivitet pada 23 November 1954 yang dipimpin ahli radiologi dalam negeri, G.A. Siwabessy, yang baru pulang studi di London.

Kota-kota di Indonesia yang berdekatan dengan Samudera Pasifik, seperti Manado, Ambon, dan Timor dinyatakan aman dari dampak ujicoba bom AS.

Rampung tugas, tim kemudian menyarankan pemerintah agar memberi perhatian kepada pernukliran. Upaya tersebut menuai hasil. Pemerintah lalu membentuk Dewan Tenaga Atom dan Lembaga Tenaga Atom (LTA).

Seperti dilansir dari historia.id, Siwabessy yang dipercaya menjadi direktur jenderal LTA, lalu membuat blue print pengembangan nuklir nasional.

LTA aktif berkeliling untuk mempelajari nuklir. Kerjasama LTA dengan Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) dianggal yang terpenting. Kerjasama itu membuat Indonesia mendapatkan bantuan dari AS. Pada Juni 1960, Indonesia menandatangani kerjasama bilateral di bidang nuklir dengan AS di bawah program “Atom for Peace”.

berkat kerjasama itu, Indonesia mendapat bantuan dana sebesar 350 ribu dolar untuk pembangunan reaktor nuklir, dan 141 ribu dolar untuk riset pengembangan. Meski menuai pro-kontra, Indonesia berhasil membangun reaktor nuklir pertamanya, Triga-Mark II, pada April 1961. Namun, kerjasama itu perlahan berubah bentuk seiring goyahnya hubungan Indonesia-AS. Kematian Presiden John F. Kennedy membuat hubungan Indonesia-AS tak lagi mesra.

Pada 16 Oktober 1964, Tiongkok berhasil mengujicoba bom atom pertamanya. Sukarno terinspirasi untuk melakukan hal serupa. Menurut Sulfikar Amir dalam “The State and the Reactor: Nuclear Politics in Post-Suharto Indonesia,” dimuat jurnal Indonesia, ketertarikan Sukarno didorong oleh ancaman terhadap keamanan Indonesia setelah AS melancarkan Perang Vietnam dan Inggris menyokong pembentukan Federasi Malaysia.

Sukarno diam-diam mengirim ahli-ahli nuklir dan petinggi militer Indonesia ke Tiongkok untuk belajar membuat bom atom. Hal itu dilakukan karena adanya perjanjian mengikat antara Indonesia dengan AS, yang tak membolehkan Indonesia berpaling dari AS dalam pengembangan nuklirnya. Amerika tak bisa menghentikan langkahnya kendati kemudian rencana besar itu redup seiring kejatuhan Sukarno pada 1965.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *