Selasa, Desember 12, 2017
Home > Sastra > Kerudung Moka

Kerudung Moka

Angin sore mempermainkan kerudung berwarna moka. Kerudung berkibar ke utara, kadang ke selatan. Membuat pemilik kerudung, berkali-kali menyibak juntaian kerudung yang menutupi sebagian mukanya dengan tangan kirinya. Tangan kanannya asyik dengan gawai dan pesan-pesan grup lini massa. Kadang, senyumnya tersungging sehingga pipi cubby-nya ikut merona terkena kilatan senja.

Pemilik kerudung moka itu bernama Nik. Dia sedang mengantre mie ayam di tepi jembatan Citanduy. Adik dan keponakannya sangat suka mie ayam yang diracik Mang Mar’on. Aku dan Nik bersahabat sejak ia mulai bisa membuat rangkaian cerita pada umur lima tahun. Saat teman mainnya belum datang, aku menemaninya. Dia seperti sutradara, punya banyak stok cerita.

“Kenapa kau tak pernah berani membuat cerita tentang jodoh putri,” tanyaku pada Nik.
“Putri itu tokoh yang mirip dengan karakterku,” ujarnya enteng.
“Kamu selalu gamang menentukan jodoh putri itu seseorang yang pintar mengaji, apakah dia pengusaha, atau aktivitis lingkungan?” todongku.

Nik tersenyum simpul. Selalu demikian yang dilakukan Nik atas semua protes-protesku.

Aku mulai memprotes Nik semenjak tujuh tahun lalu. Ketika angka umur yang dia doakan akan menjadi tahun pernikahannya berlalu. Tahun kedua dan ketiga setelahnya, Nik mengelak dengan kalimat baru mulai bekerja. Tahun selanjutnya, Nik pasti ada alasan seperti belum siap menikah atau pria yang diam-diam disukainya beda tata peribadatan, dan aneka alasan. Nah, semenjak setahun lalu, dia selalu menjawab dengan senyum simpul.

Setahun lalu, dia bertemu dengan pria yang memberi Nik kerudung moka. Kerudung moka adalah cerita Nik saat masih berseragam putih abu-abu. Konon bukan kerudung baru, tapi warnanya sangat cocok dengan seragam identitas yang dipakainya setiap Sabtu.

Setahun lalu, berarti tujuh belas tahun kemudian perihal pemberian kerudung moka itu.

Nik dan pria tersebut bertemu dalam suatu kesempatan. Ada kegugupan ketika Nik memandang pria itu. Itulah, mula senyum simpul Nik. Dia merasa dengan tersenyum simpul, dia bisa mengatasi kegugupan, termasuk ketika harus memandang pria yang memberinya kerudung moka.

“Nik,” aku mencolek Nik.
“Bagaimana dengan pria pemberi kerudung moka?” tanyaku.
Kembali, senyum simpul yang tersungging.

“Na,” dia memanggilku.
“Ya,” aku menjawabnya pendek.
“Ada yang lebih harus dipikirkan, sungai yang biasanya bening menjadi moka seperti warna kerudung ini,” tuturnya.
“Di mana? Air Citanduy selalu moka setiap musim penghujan,” jawabku.
“Sungai di sekitaran Cilongok,” jawabnya.
“Sungai di sana sedikit berbeda dengan Citanduy kita yang dekat muara, aku masih ingat pas kamu cerita Februari lalu, beberapa sumber mata air di sungai. Katamu, jika sungainya keruh, mata air pun akan keruh dan warga akan menerima air yang berwarna moka di bak kamar mandinya, begitu kan?” paparku.
Nik mengangguk.

“Sekarang masih kemarau, coba bayangkan ketika musim hujan menyapa,” ujar Nik.
“Akan berdampak pada bakul-bakul tahu di Kalisari,” jawabku.
Kembali Nik mengangguk.
***

“Mbak, mie ayamnya, wis siap,” ujar Mang Mar’on.
Nik menerima mie ayam dan membayarnya. Dia kemudian melajukan motor matic berwarna biru. Pulang ke rumahnya yang berjarak sekitar empat kilo dari jembatan Citanduy.

Aku tidak menerima ajakannya untuk memboncengnya. Aku memang khawatir pada senyum simpul Nik, tentang kisahnya dengan pria pemberi kerudung moka yang setahun ini, tapi cerita tentang air yang keruh itu juga membuatku lebih khawatir.

Penulis : Sukarni

Jika ingin lebih dekat dengan penulis, bisa melalui akun dibawah ini:

FB : Sukarni Namaku

(Visited 65 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *