Selasa, Desember 12, 2017
Home > Spesial > Karena Memilih Jodoh Tak Semudah Memesan Soto

Karena Memilih Jodoh Tak Semudah Memesan Soto

Gambar Gratis pixabay

Jika kebetulan kamu seorang single alias jomblo, usiamu menjelang atau sekitaran dua puluh lima, sudah sering mendapat undangan pernikahan bahkan termasuk dari mantan, maka sebuah pertanyaan klasik akan selalu kamu dengar; kapan nikah? Apalagi jika kamu good looking, sudah selesai kuliah, sudah bekerja, dan bukan orang yang suka ngumpet di dalam gua, pertanyaan akan bertambah satu; apa yang salah?

Sebagian di antara golongan di atas itu yang tetap tegar dan happy dengan keadaannya yang jomblo. Menikmati kesendiriannya dengan traveling ke mana-mana tanpa beban. Berprestasi dan meraih banyak pencapaian gemilang. Kelompok ini biasanya diminati banyak jomblo lain untuk didekati, tapi dia sendiri tidak terlalu serius untuk segera menentukan pilihan pasangan.

Sebagian yang lain ada di zona cemas. Biasanya zona ini dihuni oleh jomblo yang baperan dan butuh pendamping atau orang lain untuk memotivasi diri. Mereka biasanya rajin nyepik dan tebar pesona—meski malu-malu, untuk lekas mendapat pasangan. Ini adalah kelompok terbanyak.

Dan yang tak boleh dilupakan untuk dibicarakan adalah kelompok jomblo ngenes yang di ambang jurang putus asa karena sudah kelelahan nyepik tapi tak kunjung dilirik lawan jenis juga. Pada kelompok ini, kita patut peduli dan membantu mencarikanya solusi.

Namun, di kelompok manapun misalnya kamu berada, berjodoh dan memiliki pasangan adalah sebuah fitrah. Menginginkannya bukan sebuah kesalahan, karena itu manusiawi sekali. Naluri mencintai dan berketurunan adalah anugerah Allah yang diberikan pada setiap manusia ciptaan-Nya.

Lalu, bagaimana jalan terbaik untuk segera mendapat pasangan dan mengakhiri masa (sedih) kejombloan?

Pertama jelas, memantaskan diri sendiri terlebih dulu. Membuat diri sendiri layak untuk menjadi pasangan yang baik dan memotivasi ke arah kebaikan. Tentu tidak adil jika menginginkan seorang pasangan yang baik sedangkan diri sendiri tak juga entas dari kubangan keburukan.

Kedua, dekati kelompok-kelompok yang di dalamnya terdapat orang-orang baik. Tentu kamu sudah tahu jika berteman dengan penjual minyak wangi, maka kamu akan berpeluang terkena cipratan wanginya, bukan? Begitu pula dengan lingkungan pergaulan. Kebaikannya akan menyebar dan menular. Dalam kelompok seperti itu, siapa tahu ada lawan jenis yang sedang dalam pencarian jodoh sepertimu.

Ketiga, tanyalah pada Sang Maha Cinta. Pemilik hatimu, pemilik hati gebetan incaranmu, dan pemilik hati seluruh umat manusia di dunia adalah Allah SWT. Tak ada tempat bertanya yang lebih baik daripada-Nya. Gelar sajadahmu, menghadaplah dengan tekun pada Allah dalam shalat-shalat hajatmu. Jika kamu mengharapkan jodoh demi kebaikan, maka niscaya Allah akan segera memberi untukmu. Dia Maha Medengar, bahkan pada doa-doa yang tak sanggup kamu bisikkan.

Persoalan ini memang tak mudah, namun bukan pula hal yang tak bisa dipecahkan. Memilih jodoh memang tak semudah memesan soto, tinggal bilang lalu akan ada pelayan yang mengantarnya ke mejamu. Tidak seperti itu. Jodoh adalah orang yang akan menemani perjalanan sepanjang sisa hidupmu, yang akan berbagi segalanya denganmu, yang akan berketurunan meneruskan eksistensimu di bumi Allah SWT. Maka memilihnya perlu banyak usaha dan pertimbangan.

Jika diri telah kau pantaskan, ikhtiar telah kau lakukan, tawakal pada Allah adalah sebaik-baik akhiran.(Bunda Erin Cipta)

(Visited 52 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *