Kamis, Desember 14, 2017
Home > Sastra > Kang Santri Berkacamata

Kang Santri Berkacamata

Sore itu, kala langit mulai redup dengan lembayung kekuningan di ufuk barat, tampak seorang laki-laki berkacamata dengan menggendong sebuah tas yang nampaknya cukup berat berjalan ditengah riuh manusia. Langkahnya terlihat santai, berbeda dengan yang lainnya yang nampak terburu-buru mengejar sang waktu.

Yusuf, nama laki-laki tersebut, ia seorang santri dipondok pesantren Hidayatul Mubtadi’ien, pakaiannya santun dan menyejukkan pandangan setiap yang melihatnya, sorot kedua bola mutiara hitamnya tajam namun meneduhkan. Cara bicaranya tegas dan cenderung irit menggunakan kata-kata.

Langkahnya terus menapaki tiap jengkal jalan yang ia lalui, nyanyian angin sore bak kicauan burung merpati mengiringi tiap langkahnya disertai melodi tak berirama dari bisingnya kendaraan yang lalu lalang disekelilingnya. Yusuf berhenti sejenak diwarung yang terbuat dari anyaman bambu untuk membeli sepiring nasi dan lauknya yang langsung ia lahap dengan nikmatnya.

Yusuf melanjutkan ayunan kakinya mendekati sebuah bangunan tua namun terlihat rapi dengan pemandangan manusia-manusia bersarung berjajar sedang mendendangkan sebuah hafalan-hafalan. Yusuf segera masuk kekomplek dimana dia dan teman-temannya bercengkrama dan belajar hidup bersama.

“Melelahkan”

Gumam Yusuf dalam hati dengan senyum datar melintas diwajahnya, sebelum ia berganti pakaian dan melangkah menuju masjid untuk sholat maghrib berjamaah. Beberapa teman menyapa ketika Yusuf masuk kedalam masjid, karena memang selama ini Yusuf dikenal ramah. Walau sejatinya ia pendiam dan tak banyak bicara. Namun penampilan fisik dan kepandaiannya selalu nomor wahid diantara santri yang lain. Yusuf menjadi populer dikalangan para santri ketika ia menjadi Qori ketika acara Haflah Akhirussanah pondok pesantren dimana Yusuf menuntut ilmu.

Tubuh sudah ia jatuhkan diatas sajadah, kaki ia lipat bersedeku, dengan wajah tertunduk terlihat nampak jelas raut wajah lelah seharian menuntut ilmu di salah satu Universitas Islam di kota Purwokerto. Sebuah posisi nyaman bagi Yusuf, dimana dengan posisi itu ia terlihat santai walau begitu Yusuf terlihat mengantuk. Dan kondisi itu dapat bertahan beberapa menit saja, karena iqomah segera membangkitkannya.
***

“Selain pandai dan tampan, kang Yusuf ternyata memiliki suara yang sangat merdu yang tak kalah dengan suara Ustadz Muammar (Qori internasioanal)” Puji Nida.

“Bukan itu saja, Jari-jari lentik Yusuf pun mahir memainkan hadroh (Alat musik islami)” tambah Lin.

“Aduuuuh… Yusuf memang idaman” Kembali Nida memuji.

“Jangan ngalamun kamu Nida, nanti kesambet,” seru Fitri yang tiba-tiba mengagetkan Nida.

Sore itu para santri putri membicarakan laki-laki berkacamata yang bernama Yusuf, memang Yusuf sudah lama menjadi idola para santri putri, namun tak ada satupun santri putri yang berhasil menggoyahkan keteguhan Yusuf untuk tidak tergoda dengan pujian-pujian yang menghujaninya. Ia tak peduli bila teman-temannya selalu meledek dengan salam-salam dari santri putri yang dilayangkang kepadanya.
***

Lambaian sejuk angin disepertiga malam memainkan parasnya saat Yusuf menatap langit yang nampak masih gelap dan bersiap menyambut hadirnya fajar. Rasa kantuk perlahan meninggalkan bola mutiara hitam putih diwajah tampan Yusuf. Dengan cepat dan sigap segera Yusuf mengambil air wudlu dan segera melangkahkan kakinya menuju rumah Alloh untuk bermunajat kepadaNya.

Yusuf memang selalu menjaga sholat malamnya, salah satu yang menjadikan santri yang lain kagum terhadapnya.

Teeet… Teeet… Teeet…
Suara sangkakala pesantren dari kantor pengurus memecah kesunyian serta membangunkan seluruh santri. Wajah sayup-sayup para santri nampaknya masih bersarang dipelupuk matanya, berbeda dengan Yusuf yang sudah bersiap mengumandangkan adzan subuh.

Seluruh santri berhamburan keluar dari komplek menuju tempat wudu untuk mengantri, setelah sholat subuh berjamaah selesai, seluruh santri mengikuti pengajian pagi yang dipimpin oleh Ustadz Habib.

Jam 07.00 WIB pagi, langit nampak cerah dengan kehangatan matahari terbit di ujung timur memancarkan keceriaan dan semangat para santri. Yusuf melangkahkan kaki dari teras komplek, langkahnya terlihat santai namun tegas menapaki lorong-lorong komplek pesantren. Ia menuju kampus dimana ia menuntut ilmu dijenjang perguruan tinggi.

“Ada kang Yusuf”

Suara lirih terdengar sayup-sayup dari balik pintu komplek santri putri. Namun untuk seorang Yusuf, dimana dia begitu menjaga pandangannya, dimana rasa penasarannya dengan santriwati dibalik pintu komplek santri putri itu ia pendam dalam-dalam. Ia lebih memilih menundukkan pandangannya dan terus melangkah, daripada menerobos pandangannya terhadap sosok santriwati dibalik pintu tersebut.

“Sungguh laki-laki idaman”

Kalimat itu terangkai keluar dari mulut salah satu santri putri, akibat kekagumannya yang telah lama menyelimuti hatinya.
***

Sesampai di lokasi, Yusuf segera masuk kelas untuk mengikuti perkuliahan pagi, Yusuf memilih duduk tepat didepan dosen, dengan posisi tegap namun santai, Yusup bersiap menampung ilmu-ilmu yang dosen kucurkan kepada para mahasiswanya.

“Kang Yusuf, kamu sudah mengerjakan tugas dari pak Romlan,” Tanya Nissa.

“Alhamdulillah sudah, kenapa mba nissa?” Yusuf mencoba menyelidik.

“Maukah kang Yusuf mengajari saya?” dengan wajah memerah menahan malu.

“InsyaAllaoh saya mau mba Nisaa,” Jawaban Yusuf tegas namun tetap santun.

Nissa adalah teman sekelas Yusuf dikampus, Nissa juga menjadi santriwati dipondok pesantren yang sama dengan Yusuf. Nissa mempunyai paras wajah yang cantik, Ia seorang wanita yang santun, Nissa pun populer di kalangan santri putri sebagai santri yang rajin. Nissa diam-diam menyimpan rasa kagum terhadap Yusuf, begitu pula sebaliknya, Yusuf pun ternyata diam-diam menyimpan rasa kagum terhadap Nissa. Namun mereka berdua begitu menjaga kesantunannya dan pandangannya.

“Mba Nisa, saya pulang dulu,” Yusuf berpamitan.

“Terima kasih kang Yusuf atas bantuannya,” ucapan Nissa terlontar, tatkala Yusuf melangkahkan kaki meninggalkan Nissa dengan langkah sedikit melemah namun tetap tegas. Sedangkan Nissa memandangi kepergian Yusuf yang perlahan bayangan langkahnya lenyap dari hadapan Nissa. Terselip rintihan harapan Nissa dalam hati, Yusuf akan berbalik arah dan mengungkapkan kekaguman terhadapnya.

“Haiiiii Nissa”

Teriakan Fitri membuyarkan lamunannya. Fitri mengajak Nissa pulang, mereka perlahan mengayunkan kaki melangkah menuju komplek putri pondok pesantren Hidayatul Mubtadi’ien.
***

Kini Yusuf dan Nissa memasuki semester akhir, mereka masih menjaga kesantunannya dari perasaaan atas kekaguman masing-masing. Mereka tetap menjadi teman baik dengan batasan-batasan aturan di pesantren yang berpegang pada akidah islam untuk menjaga pandangan mereka.

Penulis : Any Iskand

Jika ingin lebih mengenal penulis lebih dekat, bisa cek akun dibawah ini.
FB :  Any Iskand Mahbub

(Visited 49 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *