Rabu, Oktober 24, 2018
Home > BERITA > Harga Singkong Anjlok, BI Purwokerto Akan Kembangkan Tepung Mocaf

Harga Singkong Anjlok, BI Purwokerto Akan Kembangkan Tepung Mocaf

“Harga singkong segar tidak lebih dari Rp 1000 per kilogram. Jika diolah menjadi mocaf harganya berlipat ganda”

 

Kedungreja, Cilacap – Upaya untuk membangkitkan perekonomian masyarakat, Ponpes Rubat Mbalong Ell Firdaus Kedungreja lembaga binaan BI cabang Purwokerto mengadakan kegiatan Focus Group Discussion (Diskusi Kelompok Terarah), Sabtu (20/1).

Kegiatan yang diikuti lebih dari 30 petani singkong wilayah Kedungreja dan sekitarnya dititikberatkan pada pengembangan potensi pengolahan ubi kayu atau singkong untuk dijadikan tepung mocaf (modified cassava flour).

Acara yang berlangsung di saung ponpes Rubat Mbalong menghadirkan narasumber sekaligus pelaku usaha tepung mocaf, yakni Riza Azyumarridha Azra Founder Rumah Mocaf & Petani Ketela binaan BI Purwokerto wilayah Kabupaten Banjarnegara. Sejak 2009 lalu, Riza memberdayakan para petani singkong diwilayahnya untuk memproduksi singkong menjadi tepung mocaf.

Diketahui, tanaman singkong bisa tumbuh dengan mudah dan minim perawatan. Namun, bila dibandingkan dengan tingkat kesuburannya sangat bertolak belakang dengan nilai jualnya. Kebanyakan petani singkong mengeluhkan rendahnya harga ubi kayu yang dikenal sebagai penghasil karbohidrat tinggi ini.

Saat ini harga singkong segar tidak lebih dari Rp 1000 per kilogram. Sementara jika diolah menjadi mocaf harganya sekitar Rp 5000 hingga Rp 8000 per kilogram tergantung kualitasnya.

Deputi Kepala Perwakilan BI Purwokerto Fadhil Nugroho disela-sela acara mengatakan, melimpahnya singkong diwilayah binaan, menjadi celah untuk meningkatkan ekonomi para petani singkong. Menurutnya, jika pemanfaatan singkong menjadi tepung mocaf ini berhasil diharapkan dapat mensejahterakan masyarakat khususnya petani singkong di Cilacap.

“Banyak sekali sumber daya pangan kita yang bisa dibangkitkan, salah satunya ubi kayu. Ini kan melimpah, gampang ditanam, gampang diolah. Tetapi pemanfaatannya masih belum optimal. Nah ini diharapkan dari pemanfaatan ubi kayu menjadi tepung mocaf bisa memberi nilai tambah dari ubi kayu itu, dan nantinya bisa mensejahterakan petani serta masyarakat,” kata Fadhil.

Lebihlanjut, Fadhil mengatakan, setelah ini pihaknya akan menyusun program pelatihan-pelatihan dari mulai teknik budidaya, pengolahan singkong sampai menjadi tepung mocaf hingga sampai pada pemasaran.

Bahkan, bukan tidak mungkin tepung terigu yang selama ini dikonsumsi bisa disubstitusikan dengan tepung mocaf berbahan dasar singkong. Jika ini tercapai maka sejumlah keuntungan diperoleh sekaligus. Selain mensejahterakan petani, ketergantungan terhadap impor gandum juga bisa berkurang.

“Memang butuh waktu untuk mengalihkan dari tepung terigu ke tepung mocaf. Tapi setidaknya nanti ada alternatif, sukur-sukur kalau nanti bisa mendominasi malah jauh lebih bagus, bisa mengirit devisa banyak banget, kita ngga perlu lagi import, kan luar biasa,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *