Kamis, Desember 14, 2017
Home > UMKM > Batik Sekarwaru, Batik dari Ujung Timur Cilacap

Batik Sekarwaru, Batik dari Ujung Timur Cilacap

portalcilacap.com-Mendengar kata batik Cilacap, apa sih yang terbersit di pikiran Anda? mungkin Anda akan teringat daerah Maos Cilacap, karena disana ada batik rajasamas yang sudah kondang – makondang hingga sampai ke negeri seberang. Apakah batik cilacap hanya di Maos? ternyata tidak. Ada banyak daerah di cilacap yang mempunyai pengrajin batik, salah satunya dari wilayah Kecamatan paling ujung timur dari Kabupaten Cilacap.

Batik Dusun Nusawaru Desa Klumprit Kecamatan Nusawungu. Dari dulu, Dusun Nusawaru memang terkenal dengan batik. ada kelompok yang kondang, yakni “Canting Mas” pimpinan perangkat Desa Klumprit. Namun, seiring waktu, pamor Canting Mas berangsur surut. Tetapi, bukan berarti surut pula, Batik Nusawaru. Setelah Canting Mas surut, muncul usaha batik baru yakni “Batik Sekarwaru” yang dikomandani anak muda Nusawaru, bernama Suhendri.

Suhendri, yang merupakan penduduk asli Nusawaru Kulon RT. 03/07 Desa Klumprit Kecamatan Nusawungu Kabupaten Cilacap itu menganggap, bahwa warga Nusawaru rata – rata bisa membatik, lalu dia berinisiatif membangun kembali pamor batik warisan budaya asli Nusawungu. “Dari awal saya melihat potensi di Nusawaru, banyak yang mempunyai keahlian batik. dari situlah saya ingin mengembangkannya, karena merupakan warisan budaya,” jelasnya saat ditemui tim.

portalcilacap-com_batik-sekar-waru-cilacap2

Batik Sekarwaru yang resmi berdiri pada awal tahun 2014 lalu, merupakan Usaha Kecil Menengah (UKM) binaan PT. PELINDO III cabang Tanjung Intan atas program PKBL, Kelompok Sekarwaru sering di beri kesempatan untuk pameran expo, sebagai sarana promosi yang luar biasa, untuk mengenalkan batik sekarwaru Cilacap, ke ranah yang lebih luas. Ditangan Suhendri, batik Nusawaru semakin berkembang. Kalau dulu motif batik masih bernuansa klasik, dominan warna gelap seperti hitam dan coklat. Sekarang, selain batik motif klasik tetap dipertahankan, ia juga berkreasi dengan motif batik kontemporer, batik tulis dan batik cap, yang cenderung mempunyai warna cerah (ngejreng) dengan pewarna sintetis dan alami.

Saat ditanya mengenai makna nama “Sekarwaru”, pria yang sebelumnya menggeluti usaha Sale dan Kripik pisang itu menjawab, dalam bahasa jawa, ‘sekar’ yang mempunyai arti bunga, sedangkan ‘waru’ adalah cinta (bentuk love, seperti daun waru – red). Yang mempunyai maksud, produk batik nantinya disukai banyak orang. “Sekar artinya bunga, waru adalah simbol cinta. Mempunyai magsud, agar produk kita disukai banyak orang, mewangi seperti bunga.” Jawab pria kelahiran 1987. Mantan bos Kripik dan Sale pisang itu mengaku, saat ini “Batik Sekarwaru” yang ia motori sudah mempunyai 10 pengrajin, dan bukan tidak mungkin, akan terus bertambah. Selain itu, dia juga membuka peluang bagi warga maupun pelajar yang sekedar ingin tahu tentang batik, atau hanya ingin berkunjung ke pabrik batiknya. Tak hanya itu, menurut pria lulusan STM Giripuro Sumpiuh, pada hari libur, pabriknya kerap dikunjungi siswa sekolah SMP hingga SMK untuk praktek meliput, reportasi serta mendokumentasi batik Sekawaru.

Ia sangat senang banyak anak usia sekolah datang ke tempatnya. Tetapi ada yang disayangkan Suhendri, menurutnya laporan siswa tentang batik Sekarwaru, baik berupa tulisan maupun rekaman (audio/video), hanya sampai di meja guru saja. Lebih lanjut, Suhendri ingin sekali ‘menantang’ anak muda, baik dari usia SD hingga SMA untuk belajar membatik. mulai dari mencanting, pencelupan, hingga batik jadi. Dia hanya memberi tarif 20 Ribu Rupiah saja bagi siswa yang ingin belajar membatik, uang 20 ribu tersebut, nantinya dipergunakan untuk membeli kain slayer ukuran 30x30cm untuk praktek membatik. Sedang alat canting, warna dan alat – alat lainnya disediakan secara gratis oleh pihak Sekarwaru. “Nanti bisa belajar nyanting sendiri, warna dan alat – alat dari kita semua,” ucapnya. Disinggung soal harga, ia menjelaskan, untuk Batik tulis berkisar Rp. 200.000,- sedangkan untuk batik kombinasi kisaran Rp. 90.000,- dan batik cetak Rp. 70.000,- masih relatif terjangkau untuk harga batik warisan budaya. Selain itu, untuk pemasaran, ia mengaku rutin ikut pameran/expo, terkadang produk batiknya ‘diboyong’ keluar kota oleh orang Kedinasan dari Cilacap yang kerap mengunjungi pabriknya, dengan harapan memperkenalkan batik Cilacap ke kancah yang lebih luas, agar batik warisan budaya, tetap terjaga dan dikenal banyak orang. “Untuk anak muda, marilah kita kembangkan potensi yang ada, di Nusawungu khususnya. Buktikan kita bisa hidup lebih baik dibanding yang merantau, yakni dengan berwirausaha” kata suhendri.(r)

(Visited 142 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *