Minggu, Juli 22, 2018
Home > Info Teknologi > Geevv, Mesin Pencari yang Sekaligus Bisa untuk Berdonasi Karya Mahasiswi UI

Geevv, Mesin Pencari yang Sekaligus Bisa untuk Berdonasi Karya Mahasiswi UI

Sudahkah anda browsing atau melakukan pencarian di internet menggunakan mesin pecari (search engine) Geevv.com? atau justru anda belum mengenal apa itu search engine Geevv?.

Bagi anda yang belum mengetahui tentang Geevv, kali ini portalcilacap.com akan memberikan ulasan tentang apa itu search engine Geevv yang merupakan bikinan asli anak muda Indonesia, dari seorang mahasiswi program studi Ilmu Administrasi Fiskal, Universitas Indonesia bernama Azka A. Silmi yang saat ini ia baru berumur 21. Dengan dibantu temannya Andika Deni Prasetya (20), Geev telah resmi beroperasi pertama kali pada tanggal 26 Oktober 2016, dan kini penggunanya sudah mencapai lebih dai 200 ribu orang.

Apa sih search engine Geevv itu, apa bedanya dari search engine lainnya?

Seperti yang ditulis pada website Geevv, disitu dijelaskan bahwa Geevv adalah search engine berbasis sosial yang bertujuan untuk memberikan dampak positif kepada masyarakat dunia. Geevv berkomitmen untuk mendonasikan 80% pendapatan iklan untuk program sosial dan 20% lainnya untuk meningkatkan kualitas layanan dan situs Geevv.

Azka menjelaskan bahwa Geevv bukanlah sekadar mesin pencari seperti Google. Secara teknis, ia akui cara kerjanya tak jauh berbeda seperti yang orang sering lihat dari Google. Namun secara prinsip, Azka menekankan bahwa startup yang ia buat adalah social search engine.

Maksud dari istilah sosial yang ia imbuhkan merupakan cerminan tujuan utama yang ingin dicapai dari sebuah mesin pencari. Dengan kata lain, mayoritas keuntungan yang dihasilkan dari Geevv akan disalurkan ke sejumlah program sosial seputar kesehatan, pendidikan, dan kemiskinan.

Bagaimanakah sistem kerja Geevv?

  1. Ketik kata kunci yang ingin dicaridi Geevv.com
  2. Geevv mendapatkan pendapatandari iklan
  3. Geevv memberikan 80% daripenghasilan iklan tersebut kepadaMitra Program Sosial

Tiap satu pencarian yang berhasil dilakukan melalui situs Geevv.com, pengguna menghasilkan Rp10 di saldo donasi mereka. Angka itu akan terus berlipat seiring jumlah pencarian yang dibuat. Sederhananya, makin sering digunakan, berlipat pula donasi yang dihasilkan.

Uang donasi yang yang dihasilkan pengguna dapat terlihat langsung di pojok kanan atas situs pencarian. Azka menjelaskan bahwa jumlah uang donasi itu berasal dari pendapatan iklan yang masuk. Setelah mengambil 20 persen untuk profit perusahaan, sisa pendapatan sebesar 80 persen ditujukan untuk donasi.

“Cara penghitungannya adalah jumlah rata-rata iklan yang muncul dibagi banyaknya hasil pencarian,” terang Azka. Dari situs web Geevv, total donasi yang tersalurkan per 30 November ini sudah mencapai Rp2.983.320.

Harapan dari Geevv

Dua persen dari market share mesin pencarian di Indonesia adalah target bsinis yang dipatok oleh Geevv selama dua tahun ke depan. Angka itu bukan target yang kecil mengingat mereka akan berhadapan langsung dengan sang raksasa Google. Azka berharap dalam dua tahun, bisa berkembang lebih dari angka itu.

“Setidaknya dua persen dari market share yang ada sekarang, itu sudah besar lho kalau kita lihat dari potensi yang ada. Sedangkan dalam waktu lima tahun ke depan target kita 5 persen,” tutur Azka seperti yang dilansir dari CNN Indonesia.

andika-deni-prasetya-20-dan-azka-a-slimi-21

Azka mengakui Geevv tak akan mudah mencapai target itu. Apalagi mengingat sejarah mesin pencari lokal beberapa tahun belakangan tumbang satu per satu digilas oleh kecanggihan algoritma Google.

Itu sebabnya menurut Azka peran pemerintah akan krusial terhadap pertumbuhan Geevv. Ia bercermin pengalaman mesin pencari di Cina, Jepang, Jerman, dan Rusia, yang dilindungi dan dipercaya pemerintah lewat kebijakan yang ada di sana untuk melayani aktivitas pencarian online di negara mereka.

Sejumlah situs pencari Indonesia seperti findtoyou.com, nowgoogle.com, adalah korban dari keganasan kompetisi mesin pencari. Melihat para pendahulunya, Geevv percaya diri dapat bertahan dengan diferensiasi konsep yang mereka tawarkan. Walau demikian, Azka tak ingin muluk bermimpi menyaingi Google setidaknya dengan sumber daya yang masih sangat terbatas.

Di Indonesia sendiri jumlah pengguna produk Google terbilang cukup fantastis. Bedasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) per Oktober 2016, ada 81,8 juta pengguna internet Indonesia memakai Google Chrome sebagai browser utama.

Angka itu jauh melebihi setengah dari 132,7 juta pengguna internet nusantara. Produk lain Google seperti Gmail juga mengantogi perolehan pengguna yang sama besar di Indonesia seperti Chrome, jauh meninggalkan pesaingnya seperti Yahoo yang hanya digunakan oleh 43,6 juta orang. (sh/rs)

sumber : geevv.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *